
Padukuhan Tambakrejo terletak di Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman.
“Sejatinya, nama awal Padukuhan ini Kalasan. Ini karena yang babat alas dan membuka Padukuhan ini adalah Ki Ageng Sekar Alas…….Karena banyak yang tersesat, nama Kalasan akhirnya diganti dengan nama Tambakrejo …… ”
Kalimat itu diucapkan Kepala Dukuh Tambakrejo Kardiyono dengan lancar. Tetapi perubahan itu, katanya lebih lanjut, juga melalui sebuah proses, tidak ujug-ujug dan tidak lepas dengan kondisi wilayah. Jadi nama Tambakrejo disebut Kepala Dukuh berusia 57 tahun tersebut, terjadi sudah sangat lama. Tidak terkait dengan perubahan nama-nama perdesaan, kalurahan yang banyak menggunakan nama ‘rejo’, ‘harjo’ dan lainnya.
Nama Ki Ageng Sekar Alas sebagai cikal bakal hadirnya Padukuhan Kalasan, disebut. Namun Kepala Dukuh Tambakrejo itu terus terang mengaku tidak tahu menahu siapa sosok Ki Ageng Sekar Alas tersebut. Mbah-mbah kami, ungkapnya ketika ditemui di kediaman kawasan RT 6 Padukuhan Tambakrejo, suatu pagi, hanya menyebut nama tersebut namun tidak menjelaskan dengan gamblang.
“Tetapi dengan melihat nama, mungkin kita bisa mengira-ngira beliau pasti bukan sosok sembarangan,” lanjutnya serius.
Tidak ada catatan sejarah. Yang dimiliki warga mengenai siapa Ki Ageng Sekar Laras hanya berdasar tradisi lisan turun temurun. Ketika penyakit lupa mendera, cerita bisa terpangkas. Jika ini terjadi, akan banyak kelak kita kehilangan aset berharga dalam wujud cerita yang tentu memiliki makna.
Sebutan Ki Ageng atau Ki Gede adalah gelar pemimpin zaman dulu yang biasanya digunakan tokoh pendiri suatu daerah. Gelar ini juga digunakan para tokoh pada masa awal masuknya Islam ke Pulau Jawa, namun tidak otomatis bahwa yang menggunakan nama Ki Ageng atau Ki Gede adalah identik dengan penganut Agama Islam. Di zaman Kesultanan Mataram Islam, kita mengenal nama Ki Ageng Pemanahan, pembuka Alas Mentaok, cikal bakal Kerajaan Mataram Islam. Juga ada Ki Ageng Mangir. Namun di petilasan Mangir di Sendangsari Pajangan kita menemukan lingga yoni, arca Nandi yang mendekatkan pada Agama Hindu. Sehingga masyarakat pun meyakini bila Ki Ageng Mangir yang merupakan keturunan Brawijaya III adalah pemeluk Hindu.
Siapakah sejatinya Ki Ageng Sekar Alas yang namanya diabadikan sebagai Kalasan dan merupakan cikal bakal Tambakrejo?
Catatan Rumah Budaya Tembi yang dikutip Buddhazine.com (11/10/2019) menyebutkan bila Ki Ageng Sekar Alas adalah ‘pelarian’ dari Kerajaan Galuh Sunda yang bercorak Siwa-Buddha. Nama aslinya adalah Pangeran Kusumajati, salah seorang putra Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521). Konon, Pangeran Kusumajati ini dicalonkan sebagai putra mahkota yang akan menggantikan kedudukan ayahnya. Akan tetapi Pangeran Kusumajati menolaknya dan kemudian mengembara dengan diikuti istri dan pengawal setianya. Mereka berjalan sampai jauh, hingga membuka alas (hutan) di sekitar lokasi dimakamkan sekarang. “Dulu nama kawasannya itu pun Mbudo,” jelas Kardiyono.
Apakah nama Mbudo ada kaitan dengan kepercayaan Buddha? Kardiyono tersenyum dan tidak menjawab pasti. Hanya kemudian ia mengatakan bila hal tersebut dimungkinkan ada kaitan. Sebab katanya, di zaman silam penamaan tempat kadangkala terkait nama tokoh yang babat alas pertama. “Yang ditempati Ki Ageng disebut Mbudo. Namun kawasan yang lebih luas yang dibuka, kemudian disebut Kalasan,” jelasnya.
Artinya dulu Mbudo menjadi bagian dari Kalasan. Lalu seluas manakah Kalasan apakah setara dengan Tambakrejo, kini? Dijelaskan Kardiyono, dalam administratif dan geografis sekarang, Padukuhan Tambakrejo yang masuk dalam Kalurahan Sariharjo di sebelah timur berbatasan dengan Padukuhan Tegalrejo Kalurahan Sariharjo Kepanewonan Ngaglik, sebelah selatan dengan Padukuhan Tegalweru – Gondanglegi Kalurahan Sariharjo Kepanewonan Ngaglik. Kemudian barat berbatasan dengan Padukuhan Ngemplak – Karanglo Kalurahan Donoharjo Kepanewonan Ngaglik dan sebelah utara berbatasan dengan Padukuhan Panasan Bakalan Kalurahan Donoharjo Kepanewonan Ngaglik. Padukuhan ini memiliki 220 kepala keluarga (KK) dengan 625 jiwa. Mereka terbagi dalam 6 RT dan 2 RW. Kini, lanjutnya, pusara, atau makam Ki Ageng termasuk dalam RT 5 Padukuhan Tambakrejo Kalurahan Sariharjo Kepanewonan Ngaglik Kabupaten Sleman, DIY.
“Meski seluas apa dulu kami tidak tahu. Tetapi sebutan Mbudo, masih tetap akrab bagi warga Tambakrejo. Bahkan anak-anak pun tahu, RT 5 sekarang itu adalah kawasan Mbudo,” jelasnya. Meski Suhartoyo menyebutkan, sejatinya yang disebut Mbudo ya hanya makam Ki Ageng Sekar Alas itu, tidak sampai seluruh RT 5.
Ki Ageng Sekar Alas meninggalkan petilasan, berwujud makam. Yang menarik dan berbeda dari yang lain, di Sasanalaya I Ki Ageng Sekar Laras terdapat 6 makam yang berbeda. Karena makam tersebut diberi nisan stupa. Meski dari 20 makam di permakaman tersebut hanya 6 yang berstupa. Hanya nisan berwujud stupa diakui Kardiyono, tersebut bukanlah peninggalan lama, namun dibuat oleh warga setempat.
Dulu, jelas Kardiyono, permakaman ini terkesan kurang terawat bahkan makamnya juga hanya berupa tumpukan batu. Namun kemudian ungkapnya, ada ‘orang pintar’ yang sering nenepi dan mendapat wisik agar warga membuatkan stupa untuk menghormati Ki Ageng Sekar Alas yang diyakini merupakan penganut Buddha dan merupakan sosok cikal bakal Padukuhan Tambakrejo. “Sekitar tahun 2000-an stupa dibangun oleh masyarakat sini,” ujar Kardiyono.
Sementara Pengurus Makam Sasanalaya I Ki Ageng Sekar Alas, Suhartoyo yang ditemui terpisah mengungkap, peristiwa puluhan tahun silam dan mereka termasuk dirinya yang senang sesirih, seperti mendapatkan wisik. “Saya dan Pak Suparno yang juga pengurus makam seakan mendengar bisikan. Kalimat: “mbesuk yen diparingi rejeki mbok aku diwenehi monumen,” terdengar jelas. Hanya tentu saja semuanya tidak seketika memahami bisikan ghaib tersebut. Sampai beberapa hari kemudian Pak Parno, jelas Suhartoyo, tirakat kembali dan mendengar bisikan lagi, sebagai penjelasan: Gawekna candi sing kaya kukusan lan dipasang Setu Paing. “Sanepa itu akhirnya mereka onceki, dibahas bersama- sama. Sehingga kemudian dibuatlah tetenger stupa tersebut,” jelas Suhartoyo yang mantan Anggota Polsek Depok Timur.
Setu Pahing itulah kunci yang dianggap sebagai sanepa dari kata ‘stupa’. Namun melaksanakan apa yang didengar dari wisik juga tidak seketika, karena kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya warga Tambakrejo sepakat memasang nisan dalam wujud stupa. “Pemasangannya dilakukan juga pada Setu Pahing, dengan lebih dulu ada tirakatan, gendurenan, dan lainnya,” ujar pengurus makam berusia 62 tahun, yang tinggal tidak jauh dari makam tersebut.
Dengan rinci Suhartoyo menyebut keenam makam berstupa tersebut adalah makam Ki Ageng Sekar Alas atau Eyang Wastu Dewabrata, istri Ki Ageng bernama Nyai Uding Sahera, pengawal pribadi Mbah Bewok atau I Gede Dewawastu dan tiga pengawal lain di antaranya dengan nama Lingga Wardana, Lingga Pratama, dan Lingga Baskara. Kemudian ada dua makam yang agak panjang, konon adalah makam sahabat Ki Ageng Sekar Alas yang berasal dari Banteng. Yang lain adalah makam keluarga Mbah Wignjo, warga setempat.
Sekarang, permakaman tersebut telah ditutup untuk umum, karena baik Suhartoyo maupun Kardiyono menyebutkan, dulu jika ada warga yang meninggal dimakamkan di situ. Namun kemudian ada peristiwa yang tidak enak, karena selama 7 hari berturut-turut akan ada keluarganya yang juga meninggal. Bahkan sempat ada yang tidak percaya hal tersebut, dan mencobanya lagi. Ternyata kejadian. Sehingga makam tersebut ditutup untuk permakaman umum dan kemudian dibuatlah permakaman umum untuk warga, yang besar dan sejatinya hanya bersebelahan dengan Sasanalaya I Ki Ageng Sekar Alas.
“Kini setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, hampir dipastikan masih ada yang nenepi, tetirah atau sesirih di sareyan tersebut,” ujar Suhartoyo. Pengurus makam, katanya, akan mempersilakan bahkan sudah menyediakan 6 lembar karpet plastik untuk alas duduk. Karena makam itu memang tidak menggunakan sistem juru kunci.
Lantas apa alasan dan mengapa nama Kalasan berubah menjadi Tambakrejo? Apakah hal tersebut tidak lantas ‘mengingkari’ cikal bakal Tambakrejo?
Kapan waktu pastinya, wallahu ‘alam. Jika Kardiyono menyebut bila simbahnya simbah pun sudah menyebut nama Padukuhan Tambakrejo. Artinya, nama Tambakrejo tidak hadir secara ujug-ujug sesudah Kemerdekaan apalagi semasa Orde Baru yang banyak menghadirkan nama-nama desa dengan tambahan kata ‘rejo’, ‘harjo’, ‘martani’, ‘sari’, dan lainnya. Namun Suhartoyo menyebutkan bahwa perubahan nama itu pun dilakukan semasa Ki Ageng Sekar Alas.
Meski terpisah ditemui, Suhartoyo dan Kardiyono dalam bahasa yang sama mengatakan bila perubahan ini seakan menjadi sebuah solusi akibat banyaknya kesalahpahaman. “Konon, menurut leluhur waktu itu banyak orang Kedu – Magelang yang mau ke Kalasan. Maksudnya adalah Kalasan yang ada candi. Mengingat Kalasan dengan Candi Kalasan merupakan tempat pengembangan dan pembelajaran Agama Buddha, di masa silam. Namun orang-orang tersebut tersesat dan masuk ke Kalasan tempat Ki Ageng Sekar Alas. Dan hal ini bukan hanya sekali dua. Sehingga kemudian ada kesepakatan, agar tidak menyesatkan nama Kalasan berganti menjadi Tambakrejo. Kapan pastinya tidak tahu, tapi perubahan itu dilakukan semasa masih ada Ki Ageng,” jelas Suhartoyo.
Nama Tambakrejo tersebut dipilih menurut Kepala Dukuh Kardiyono juga dengan pelbagai macam pertimbangan. Konon dulu, kawasan tersebut merupakan daerah loh, subur. Bahkan disebutnya, hingga sekarang pun masih merupakan lahan pertanian terbaik di kawasan Sleman. Seakan bagai sumber atau tambak yang membuat reja, sejahtera. Meski kini perubahan lahan dari persawahan menjadi permukiman, cukup mewarnai kawasan Tambakrejo. Maka pertanyaan warga ketika penulis mencari kediaman Bapak Dukuh adalah: “Menapa badhe mundhut siti?”
Catatan mengenai kisah Ki Ageng Sekar Alas, mungkin Suhartoyo memiliki. Tetapi ketika menyinggung asal mula terjadinya Padukuhan Kalasan hingga kemudian disebut Tambakrejo, diakuinya lebih pada tutur tinular dari leluhur yang diwariskan. Karenanya purnawirawan polisi yang suka sesirih ini menyebutkan, sejarah lengkap yang resmi memang belum ada. Sementara, menyampaikan kisah ini secara tutur tinular saat ini tidak selalu dilakukan para orang tua yang berdiam di Tambakrejo, kepada penerusnya. Bahkan bisa jadi, banyak orang tua kurang memahami dan mengenal kisah tersebut. Apalagi jika mungkin yang berdiam di kawasan tersebut sudah banyak pendatang.
Ki Ageng Sekar Alas babat alas dan menghadirkan Padukuhan Kalasan dengan laku, nglakoni bahkan tirakat. Karena pasti yang dilakukan Ki Ageng Sekar Alas tentu tidak hanya menunggu dan tiba-tiba muncul padukuhan yang gemah ripah loh jinawi. Pelbagai usaha nyata pasti dilakukan Ki Ageng Sekar Alas supaya warga yang mengikuti berdiam di kawasan itu sejahtera. Upaya ngleluri warisan leluhur yang adiluhung pun dilakukan, agar warga juga tidak kepaten obor.
“Pastilah dulu ada pengalaman Ki Ageng Sekar Alas untuk melihat kondisi masyarakatnya dengan berkeliling Padukuhan ini. Maka ketika saya terpilih sebagai Kepala Dukuh tahun 2002, kemudian atas kesepakatan dengan warga kami mengadakan upacara ritual mbisu mubeng padukuhan, setiap malem 1 Sura mulai pukul 23.00. Peserta seluruh warga desa, lelaki perempuan, tua muda, anak-anak. Dan semua berlangsung tertib, tidak berisik. Bahkan dengan berpakaian Jawa sambil membawa obor. Tapa mbisu mubeng padukuhan ini juga dengan membawa tumpeng dan ubarampe sesaji lainnya,” ujar Kardiyono. Ritual mbisu mubeng padukuhan ini lanjut Suhartoyo, dilaksanakan selain ngleluri tirakat Ki Ageng Sekar Alas, juga karena waktu itu di Tambakrejo terjadi pagebluk yang cukup lama.
Tujuannya jelas. Mengajak warga menghargai perjuangan leluhur dan mengajarkan bila segala sesuatu harus dengan usaha, ikhtiar baik secara wadag maupun secara batin. Secara wadag bila zaman sekarang adalah dengan berobat ke ahlinya. Sedang secara batin adalah dengan berdoa pada Sang Maha Agung. Selain berdoa sesuai kepercayaan, dalam mbisu mubeng beteng warga diajak juga introspeksi, mendekatkan diri pada Allah dengan menghormati satu dengan lainnya. Sehingga, warga termasuk yang muda akan memahami nilai-nilai luhur yang diajarkan bahkan memahami makna simbol-simbol yang ada sebagai kearifan lokal. Jika hal ini bisa diresapi, kehidupan bersama dalam perbedaan akan menjadi sebuah keindahan.
Contohnya, kesediaan leluhur mengganti nama Kalasan dengan dalih agar orang ‘tidak tersesat’ adalah sebuah kebesaran jiwa pemimpin dan warga Tambakrejo, yang tidak sekadar mengambil keuntungan sendiri. Memahami bila Ki Ageng Sekar Alas membuka padukuhan dengan laku prihatin, diperingati dengan simbol mbisu mubeng padukuhan. Dan menurut Kardiyono, tidak berhenti sampai disitu. Karena untuk hidup dan kehidupan menurutnya harus ada usaha yang dilakukan. Sekalipun memahami bila leluhur yang membuka padukuhan memeluk Agama Buddha, namun warga Tambakrejo kini hidup bersama dalam pelbagai kepercayaan.
Ritual mbisu mubeng padukuhan mengajarkan banyak hal pada warga. Dukungan masyarakat luar biasa. Namun ketika kehidupan semakin sulit dan biaya menjadi semakin mahal, ritual mbisu mubeng padukuhan sebagai kegiatan mandiri padukuhan ini, sejak 2017 dihentikan. Karena Kepala Dukuh tidak ingin terlalu membebani warganya. Padahal ini termasuk aset istimewa padukuhan.
Penulis : Fadmi Sustiwi
